Sunday, April 12, 2015

God, You Must Be Crazy (a really short story)


That was early in the morning,
I were just woke up and brew a cup of my daily coffee, black and bitter as usually. A moment later as I lit my cigarettes up, something strange happen.
My room turning into the color of peach, black, blue, white and yellow, a bit red on the corner of the window.
Strange voice incoming and asking
'Son' it say
'Which part of your past year you'd like to re-starting?'
I keep my mouth lightly shut and then
Sip my coffee and smoked my cigarette while thinking
'Is it your '89, your 2001, your 2006 or 2009?'
I keep thinking
'You can start all over again, no need to regret or complain, I understand'
Suddenly those voice appears in front of me as a bright light I barely see, but looks smiled at me
I keep thinking, carefully, toughtfully... A little while longer...
'I want to restart it from the January the year of 2014'
I speak slowly
'Would you repeat it once again, son?'
'I want to restart it from the January the year pf 2014'
I repeat what I already say
As the lights turn around and walk away, said
'Oh God, are you kidding me? You must be crazy'
I smiled, sip my coffee
Smoked my cigarettes as the lights dissolve I can no longer see

God, you're the one that must be crazy
To ask such question to a person like me

Wednesday, April 8, 2015

Nelangsa

Apakah ini kenyataan 
bagi kedua belah mata hati
Dimana aku lahir, tumbuh sebagai putra bangsa 
hingga mati nanti
Negeri ini memberiku kebanggaan yang 
akan selalu aku bawa dan takkan pergi
Ibu pertiwi yang menghidupi jiwaku
dengan nilai baik nurani yang tumbuh tak terperi

Dimana ajaran masa kecil yang kupercaya 
tidakkah mereka pernah sedikit mendengarnya
Junjung tinggi hak asasi bagi rakyat yang berdaulat
hanya ucapan sepi di pinggir politik pagi hari
Semakin siang hanya bergulat demi kepentingan
diri sendiri dan golongan yang merongrong kedaulatan
Sementara di titik nadir kehidupan rakyat yang diperjuangkan 
mengemis di pinggir trotoar dan mati kedinginan berbalut harap

Mengubur hidup-hidup rakyat demi jengkal
sembari waktu lambat berlalu menangis pilu
Harga-harga naik menderu tanpa ragu mengharu biru 
dalam pasar-pasar tempat hidup rakyat lugu tertatih melaju
Tak ada lagi pilihan kecuali bertahan berpegang pengharapan
menjalani hidup lebih baik dari semalam yang berlalu
Apa masih ada kebanggan bagi ibu pertiwi ini yang bisa ku katakan
bila negara tercinta menghiraukan besar kekuasaan diatas melaratnya rakyat

Penganggur setengah sadar terbenam dalam botol-botol minuman
haramkan nilai kebaik-hati-an halalkan semangat ketidakadilan
Pintasan menuju tujuan diumbar tanpa kemanusiaan
hilang jiwa dari raga terrampas oleh nurani buta harta 
Sementara ayah dan ibu-nya bergumul diatas ranjang besar berebut kuasa
tak peduli putra putri meregang masa depan kelam dihadapnya
Dimana cita luhur bangsa kita tercinta milik para pendiri bangsa
tak adakah sebersit asa untuk bisa kita mencapainya