Apakah ini kenyataan
bagi kedua belah mata hati
Dimana aku lahir, tumbuh sebagai putra bangsa
hingga mati nanti
Negeri ini memberiku kebanggaan yang
akan selalu aku bawa dan takkan pergi
Ibu pertiwi yang menghidupi jiwaku
dengan nilai baik nurani yang tumbuh tak terperi
Dimana ajaran masa kecil yang kupercaya
tidakkah mereka pernah sedikit mendengarnya
Junjung tinggi hak asasi bagi rakyat yang berdaulat
hanya ucapan sepi di pinggir politik pagi hari
Semakin siang hanya bergulat demi kepentingan
diri sendiri dan golongan yang merongrong kedaulatan
Sementara di titik nadir kehidupan rakyat yang diperjuangkan
mengemis di pinggir trotoar dan mati kedinginan berbalut harap
Mengubur hidup-hidup rakyat demi jengkal
sembari waktu lambat berlalu menangis pilu
Harga-harga naik menderu tanpa ragu mengharu biru
dalam pasar-pasar tempat hidup rakyat lugu tertatih melaju
Tak ada lagi pilihan kecuali bertahan berpegang pengharapan
menjalani hidup lebih baik dari semalam yang berlalu
Apa masih ada kebanggan bagi ibu pertiwi ini yang bisa ku katakan
bila negara tercinta menghiraukan besar kekuasaan diatas melaratnya rakyat
Penganggur setengah sadar terbenam dalam botol-botol minuman
haramkan nilai kebaik-hati-an halalkan semangat ketidakadilan
Pintasan menuju tujuan diumbar tanpa kemanusiaan
hilang jiwa dari raga terrampas oleh nurani buta harta
Sementara ayah dan ibu-nya bergumul diatas ranjang besar berebut kuasa
tak peduli putra putri meregang masa depan kelam dihadapnya
Dimana cita luhur bangsa kita tercinta milik para pendiri bangsa
tak adakah sebersit asa untuk bisa kita mencapainya
No comments:
Post a Comment